Blogger Widgets

Minggu, 04 Mei 2014

PSIKOLOGI ~ Nama-nama & Istilah Penyakit Jiwa


Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dan proses mental yg menyertainya
Phobia biasanya menggangu aktifitas sehari-hari, karena sebagian besar adalah ketakutan yang irasional

Scopophobia :
Ketakutan berlebihan ditatap oleh orang lain disebut sebagai


Venustraphobia : ketakutan terhadap wanita cantik


Hippopotomonstrosesquippedaliophobia : phobia terhadap kata-kata panjang


cryptophasia :
Biasanya anak kembar menciptakan bahasa mereka sendiri dan hanya mereka yang memahaminya


Anuptaphobia : Ketakutan menikahi orang yang tidak tepat

Levophobia :  rasa takut berlebih pada benda-benda yang berada di sebelah kiri


Dextrophobia : rasa takut berlebih pada benda-benda yang berada di sebelah kanan

Gangguan makan kompulsif : Tidak bisa berhenti makan, memiliki kecanduan makanan; tidak bisa berhenti makan apa yang Anda suka.

Anoreksia nervosa : Gangguan makan yg ditandai dengan penolakan asupan makanan untuk
mempertahankan berat badan


Bulimia nervosa : Gangguan makan yang membuat Anda makan secara berlebihan, dan segera mengeluarkan makanan tersebut dgn berbagai cara
Bulimia nervosa seringkali dialami oleh para model profesional dan dijadikannya pilihan gaya hidup, walaupun faktanya sangat menyiksa
Penyebab Bulimia : Masalah Pribadi, keluarga, perilaku maladaptif, pertentangan identitas diri, dan mementingkan penampilan fisik

Sleep Paralysis (Lumpuh Tidur) atau The Old Hag Syndrome


Skeptis : merupakan sebuah paham yang mengajarkan manusia untuk curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati

Narsisisme : perasaan cinta trhadap diri sendiri yg berlebihan, percaya diri itu perlu, tp harus ditempatkan dgn baik

Dejavu berarti mengalami sesuatu pengalaman yang dirasakan pernah dialami sebelumnya

Egois itu ketegasan untuk kepentingan diri sendiri, Prinsip itu konsisten pada kebenaran yang dipegang

Peladophobia : rasa takut terhadap orang berkepala botak.

Triskaidekafobia : rasa
takut dengan angka 13


Pika (Pica) : sebuah penyakit kejiwaan yang menunjuk pada keinginan kuat utk memakan benda-benda yang bukan merupakan makanan


Melophobia : rasa takut pada musik.

Snickophobia : rasa takut pada Celana Dalam


Dendrophilia : kelainan kejiwaan dimana seseorang memiliki ketertarikan seksual terhadap pohon bukan manusia

Didaskaleinophobia : rasa takut / ketakutan untuk pergi ke sekolah.

Catagelophobia : rasa takut akan ditertawakan / diejek


Sleep paralysis adalah keadaan ketika kamu terbangun dr tidur & merasa sgt sadar, tapi tubuh sulit bergerak.
 Sleep paralysis biasanya terjadi sekitar 2-3 menit. Kamu akan bisa bergerak setelah otak & tubuh berhubungan kembali
Anuptaphobia : takut akan tidak mendapat pasangan (single).

Ablutophobia : takut akan mencuci atau mandi


Seseorang yang menyembunyikan rasa sakit mereka di balik senyumnya disebut "Eccedentesiast"


Hematidrosis adalah kondisi langka, dimana seseorang mengeluarkan keringat darah di saat stres


Misophonia adalah keadaan di mana Anda merasa marah karena mendengar suara orang yang sedang bernafas atau sedang makan
Pteronophobia : phobia digelitik oleh bulu.

Cherophobia : takut terhadap hal-hal yang menyenangkan.


Obesophobia : rasa takut akan gemuk atau takut bertambah berat badan

'Nomophobia', yaitu takut kehilangan handphone yang terlalu berlebihan
Scopophobia :
Ketakutan berlebihan ditatap oleh orang lain disebut sebagai
Gamomania adalah orang yang senang/hobi untuk melamar beberapa wanita sekaligus dalam waktu yang hampir bersamaan.Catagelophobia : takut akan ditertawakan / diejek.

Coimetrophobia : ketakutan pada kuburan.


Pentheraphobia : fobia atau rasa takut berlebih pada ibu mertua.
Lethologica : gangguan psikologis yang menyebabkan seseorang lupa sesaat akan suatu nama atau kata dalam sebuah percakapan.
word Phobia adalah fobia / takut punya pacar lagi karena trauma disakiti.
Philophobia : fobia atau rasa takut akan merasakan cinta atau jatuh cinta.

OCD : Gangguan kecemasan dimana seseorang memiliki ketakutan yg tidak masuk akal (obsesi), menuntun melakukan sesuatu berulang.

Technophobe adalah sebutan untuk orang yang menghindar / menolak teknologi baru.

Quidnunc adalah sebutan untuk orang yang selalu ingin tahu gosip terbaru.

Atychiphobia adalah fobia atau rasa takut berlebih akan gagal / kegagalan.
Brontophobia : takut akan halilintar/petir, biasanya menolak untuk pergi keluar pada saat hujan yang disertai dengan petir.

Eproctophilia adalah kelainan seksual dimana si penderita menyukai bau kentut pasangannya.
Pistanthrophobia adalah fobia atau ketakutan untuk mempercayai orang karena pengalaman masa lalu yang negatif atau buruk.
Amaxophobia adalah fobia atau rasa takut berlebih mengendarai kendaraan mobil / motor.

Mnemophobia adalah takut akan kenangan, kejadian yang sudah berlalu.

 Musicphile adalah sebutan orang yang kecanduan mendengarkan musik.

Tonsurphobia adalah fobia atau rasa takut akan memotong rambut.

Alliumphobia  Ketakutan berlebihan terhadap bawang putih.

 Haptephobia / Haphephobia adalah fobia atau ketakutan akan disentuh.

Athazagoraphobia adalah ketakutan akan dilupakan / diabaikan.

 Katsaridaphobia adalah fobia / takut pada kecoa.
 
Erotomania adalah jenis khayalan di mana orang yang bersangkutan percaya bahwa orang lain jatuh cinta dengannya padahal tidak sama sekali.

 Agyrophobia adalah fobia atau rasa takut berlebih akan menyebrang jalan. 

Frigensophobia adalah ketakutan bahwa memakai ponsel bisa merusak otak

 Hematidrosis adalah kondisi langka, dimana seseorang mengeluarkan keringat darah di saat stres. 

 Abibliophobia adalah fobia atau ketakutan terhadap kehabisan bahan bacaan.

 Automatonophobia adalah fobia / ketakutan pada patung / boneka.

 Acarophobia : Takut pada rasa gatal atau serangga yang menyebabkan gatal. 

 Sophophobia adalah rasa takut untuk belajar . 

 Telephobia adalah fobia atau ketakutan akan membuat atau menerima panggilan telepon.

Kamis, 01 Mei 2014

Apa itu Inteligensi dan IQ

 



 Oke, langsung saja simak berikut ini ya:

Menurut David Wechsler , inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional.
Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya.

Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1.

Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet.

Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik.

Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS ( Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC ( Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan.

Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakan Scholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory.

Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA) dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu.

Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan.

Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan.

Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.